Cerpen "Suara Hati Wanita Bercadar"
Suara Hati Wanita Bercadar
Fajar mulai merangkak. Burung - burung berterbangan mencari makan. Pematangan sawah tersibak angin sepoi - sepoi. Udara dingin di kaki gunung mulai menghunus tulang seorang wanita bercadar. Seorang wanita bercadar itu bernama Eva. Ia tidak tinggal di rumah yang cukup besar. Ia hanya tinggal di gubuk triplek kayu. Eva tinggal bersama kakek dan neneknya. Kedua orang tuanya telah tiada, dikarenakan meninggal kecelakaan mobil.
Pada hari itu juga, Eva ingin pergi ke kajian bersama dengan Ratna di mushola selesai Subuh. Ratna ialah seorang wanita lulusan pesantren. Ratna pernah menimba ilmu di pesantren saat SMA. Jadi, Ratna dapat membimbing Eva untuk berhijrah. Setelah sampai di mushola, ia mendengar ceramah ustadz Husain.
"Toleransi terhadap non muslim adalah suatu kewajiban. Karena di surah Al Kafirun pada ayat ke - 6 mengatakan "Lakum dinukum waliyadin" yang artinya bagimu agamamu bagiku agamaku. Jadi, jika ada suatu aliran Islam yang lain mengatakan, "Non muslim adalah kafir. Maka, harus diperangi”. Dalam tanda kutip itu adalah pendapat yang keliru. Karena kalau dalam urusan agama non muslim, biarlah menjadi urusan mereka sendiri. Jika ada teman kita yang non muslim sakit, maka jenguklah. Jika ada teman kita yang non muslim butuh pertolongan, maka bantulah. Karena suatu hari jika kita kesusahan, mereka akan menolong kita dalam urusan dunia. Jika untuk urusan dunia, itu tidak apa apa hukumnya."
Eva hanya mengangguk - angguk mendengar ceramah ustadz Husain. Dalam pikirannya, ia menyetujui bahwa toleransi terhadap non muslim adalah hal yang wajib dilakukan. Dalam benaknya, ia ingin merasakan bagaimana rasanya berteman terhadap orang non muslim. Eva hanya bisa pasrah dan tidak bisa mengatur takdir mengenai bagaimana reaksi orang non muslim kepadanya, karena ia bercadar. Jadi, ia harus siap menerima respon apapun dari orang lain saat ia bercadar.
***
Usia Eva saat itu berumur 19 tahun, ia telah melewati masa GAP year selama satu tahun. Ia baru memasuki masa kuliah di sebuah PTN ternama lewat jalur SNBT. Ia juga menimba ilmu di pesantren dekat kampus. Pada hari pertama di kampus, ia menemukan teman sefrekuensi yaitu sesama temannya yang bercadar. Wanita bercadar itu memakai pakaian berwarna biru dongker, ia bernama Anisa.
Di hari pertama di kampus, ia mengajak Anisa pergi ke kantin. Kantin itu sangat ramai. Kedua wanita bercadar itu menjadi pusat perhatian, karena memakai cadar.
"Ninja, ninja. Ada duo ninja!", teriak wanita berambut pendek dengan pakaian necis dan fashionable.
"Di sini kok pakai cadar, nggak zaman woi!", ucap wanita berpakaian ketat dan berjilbab merah muda.
"Pergi sana! Rumah lu di Arab sono!", maki pria berbaju kotak - kotak berwarna abu abu.
Kedua wanita bercadar itu hanya bisa pasrah dan diam, tidak bisa berbuat apa apa. Melihat kemalangan kedua wanita bercadar itu, tiba tiba ada seorang pria ras Chinese berbadan jakung membela kedua wanita bercadar itu. Pria Chinese itu bernama Christian.
"Hei, kalian! Yang meledek kedua wanita bercadar ini, mereka berdua itu baik. Berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, dengan memakai cadar. Tapi apa - apaan kalian ini, meledek wanita bercadar. Mereka ini berusaha menjaga diri dengan pakaian tertutup ini. Tidak seperti kalian, yang meledek pakaian tertutup ini", bela pria itu.
Yang meledek kedua wanita bercadar tersebut, hanya bisa diam. Para peledek itu pun menjauhi Christian itu dengan penuh kesal. Kedua wanita bercadar itu terkejut. Ia melihat bahwa pria yang membela mereka adalah seorang Nasrani, dengan bukti tindik telinganya berbentuk salib.
Kemudian Eva bertanya kepada pria itu mengapa ia membela mereka. Jawabannya pun sungguh mengejutkan.
“Pekenalkan namaku Christian. Aku satu kelas dengan kalian. Bagiku toleransi dalam keberagaman apapun itu, baik suku, agama, dan ras adalah nomor satu. Di ajaran kami Nasrani, dilarang mendiskriminasi seseorang. Karena itu perbuatan yang tercela", jelas Christian.
Eva terkejut, mendengar pernyataan pria itu. Ia tidak menyangka bahwa orang yang non muslim mempunyai rasa toleransi yang lebih tinggi daripada yang muslim. Ia pun baru tahu begini rasanya dalam mempunyai teman yang non muslim. Rasa sesak sakit hatinya mendengar celaan orang - orang tadi jauh lebih baik, setelah mendengar perkataan Christian.
(Catatan: Karya ini cuma fiksi)

Komentar
Posting Komentar