Cerpen "Menggenggam Dimensi Waktu"

Menggenggam Dimensi Waktu

(Oleh: Arhima Shofia Fariha)

Sumber: pixabay.com


Matahari menyemprot panasnya ke bumi. Angin membenci pergerakan tiupannya. Penghujung langit berkomat - kamit dengan si awan yang menggumpal di angkasa. Lazuardi menampar matahari hingga angkasa semakin memutih. Aku baru saja dari toko antik untuk membeli jam tangan kuno. Aku mencobanya di tangan sebelah kiriku. Saat itu aku sedang di tengah jalan. Tiba - tiba aku menuju lorong waktu melalui kabut ke masa lalu. Sebenarnya, aku bingung itu bahwa aku dimana.

Setelah kulihat dengan sepasang bola mataku di balik kacamata, aku melihat tahun di kalender dinding tahun 2011. Angin menjarah tubuhku, menusuk tulang. Hawa di kantor saat itu aku sedang duduk di atas kursi dan mengerjakan tugas dari atasan. 

"Hai, aku yang di sana? Bagaimana kabarmu? Aku yang di masa depan ada di sini, di dekat lemari", ucapku dengan penasaran.

Aku kaget dan diam. Ternyata, aku tidak terlihat di masa itu, karena di masa lalu aku diam dan tidak menjawab aku yang sedang mengerjakan tugas dari kantor. Aku memutar jarum jam tanganku ke masa sekarang, yaitu masa sebenarnya. Aku terkejut dan bersyukur, aku masih selamat.

***

Angan - anganku ingin merubah takdir di masa lalu, ketika aku pernah mengalami kecelakaan sepeda motor. Tetapi pikirku, apa bisa merubah takdir di masa lalu. Aku memutar jarum jam tanganku ke masa lalu. Waktu berhenti dan pergerakan di masa lalu itu juga berhenti. Aku segera merubah posisi tubuhku di sepeda motor dan merubah posisi mobil di depanku. Akhirnya, aku di masa lalu selamat. Luka - luka yang masih membekas di masa sekarang mulai memudar dan seakan kecelakaan di masa lalu itu tidak pernah terjadi.

Aku memutar jamku ke masa sekarang yang telah terjadi. Aku sekarang menjadi seorang CEO di perusahaan mobil. Aku sudah sukses dan uangku sudah banyak. Aku juga berencana melamar sekretarisku yang cantik. Namanya, Elea. Ia saat ini tinggal di apartemen jauh dari kantor. Ia setiap hari merasa kelelahan, karena perjalanannya jauh sekali.

"Matthew, kapan kamu lamar aku? Cepat, ya? Aku ingin hidup enak denganmu", ucap Elea.

"Tenang saja, segera pokoknya kunikahi kamu", kataku dengan memantapkan hati.

Dulu, aku menyukai Elea pada saat pandangan pertama karena dia cantik dan penampilannya good looking. Dia juga pintar dan berwawasan luas. Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Aku harus segera pulang dan pergi ke rumah orang tuaku. Walaupun ya, sebenarnya aku punya rumah mewah sendiri di dekat kantorku.

Mobil mewahku tiba di depan teras rumah.
"Ma, aku pulang. Sebentar lagi aku mau melamar pacarku. Aku capek, single terus", ucapku pada Mama.

"Kamu capek, istirahat dulu ya! Besok lusa kita lamaran ke Elea. Mama yakin, Elea bakal jadi pasangan pas buat kamu", sahut Mama dengan bahagia.

***

Pada saat hari itu, Elea memakai gaun pengantin dengan sangat anggun dan cantik. Matanya bersinar seperti bidadari surga. Para tamu undangan resepsi pernikahan sangat banyak yang datang. Aku dan Elea duduk di atas pelaminan dan menerima jabatan tangan selamat untuk pernikahan.

Tetapi, hatiku sangat sedih. Karena Papaku meninggal dunia sebelum resepsi pernikahanku dilaksanakan. Pikirku melayang bahwa seadainya Papaku masih ada, aku akan bahagia melihat Papaku juga bahagia untuk menyaksikan resepsi pernikahanku.

Tiba jam 12.00 siang, acara mulai bubar. Janji suci antara aku dan Elea begitu sakral, agar selalu setia dan bersama saat menikah.

Aku baru menyadari bahwa aku masih menggenggam dimensi waktu di jam tanganku. Jadi, aku harus menyelamatkan Papaku di masa lalu yang mengalami kecelakaan mobil. Jarum jam diputar, aku melewati lorong waktu ke masa lalu.

Aku berada di samping Papa yang menyetir mobil, Papaku hampir menabrak truk. Aku berusaha menolong Papaku dengan kekuatan supranatural yang kuperoleh dari jam tangan untuk menghentikan waktu. Akhirnya, Papaku selamat dengan izin Tuhan.

Jam kuputar kembali ke masa kini, aku bersama Elea mengganti pakaian pernikahan tadi. Aku mencari Papaku di rumah, akhirnya aku menemukan Papaku dengan sehat. Aku masuk kamarku dan duduk di kursi sambil melamun. Pikiranku berkata,

"Keajaiban itu selalu ada. Jika kita merasa kesusahan dan kesulitan, Tuhan selalu memberi keajaiban. Tuhan itu Maha Adil. Tuhan selalu memberi keberuntungan bagi orang yang selalu berusaha".


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biodata Arhima Shofia Fariha

Cerpen "Suara Hati Wanita Bercadar"