Cerpen "Aku dan Cadar"

Aku dan Cadar

(Oleh: Arhima Shofia Fariha)

Sumber: pixabay.com


Matahari sudah di atas kepala. Hari itu sangat panas. Cuaca terik membuat Khadijah berkeringat. Hari itu juga, hari pertama ia bercadar. Ia sudah lama berlatih memakai cadar, dengan menggunakan masker terlebih dahulu dan memakai baju syar’i secara bertahap. Pakaiannya saat itu belum menggunakan warna hitam, karena masih belajar. Warna hitam sebenarnya yang paling utama saat menggunakan cadar. Ia menggunakan cadar dengan alasan agar tidak dipandang lelaki yang bukan mahram dan ingin menjaga diri. Ia berniat berhijrah karena Allah SWT.

“Ada teroris! Teroris! Teroris, woi!”, teriak ibu gemuk berpakaian daster batik berwarna merah muda. 

Ibu itu berteriak sambil menyiram Khadijah dengan air dari selang. Padahal, saat itu Khadijah hanya lewat berjalan menuju rumah karena habis pulang mengajar dari sekolah. 

“Aduh! Aduh! Astagfirullah, ibu!”, rintih Khadijah sambil menghindar.

Kemudian ibu yang menyiram tadi berkata, "Situ sadar diri dong! Muka kok ditutupi pakai cadar! Dasar teroris! Di sini itu bukan di negara Arab! Dasar aneh!”

Khadijah kemudian bersabar diri dan beristighfar. Ia tahu bahwa menggunakan cadar ujiannya berat. Ia berusaha tabah dengan perkataan ibu tadi. Setelah tiba di rumah, ia segera mengambil wudhu dan sholat Dzuhur. Ia pun berdoa, setelah selesai sholat.

“Ya Allah…. Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan Hati! Teguhkan aku di atas agama-Mu! Kuatkan hati hamba di atas langkah mengambil sunah dan berhijrah!”, ucapnya sambil meneteskan air mata.

Hari demi hari berganti. Khadijah semakin mantap berpakaian serba hitam dan bercadar. Saat itu, ia hendak pergi ke kajian bersama temannya. Temannya itu, bernama Iklima. Iklima ialah sesosok wanita yang sedang hijrah dan sama-sama bercadar seperti Khadijah. Iklima juga menggunakan pakaian serba hitam, sama persis seperti Khadijah.

“Khadijah, yuk ikut ke kajian sama aku!”, ucap Iklima saat di depan pintu rumah Khadijah.

“Ayo! Sebelum keluar, kita baca doa keluar dari rumah dan doa naik kendaraan, ya!”, sahut Khadijah.

Iklima mengangguk. Iklima mengadahkan tangan untuk berdoa dan mengusapkan wajahnya sehabis berdoa.

Saat di perjalanan, tiba – tiba ada segerombolan anak kecil yang meledek.

“Ninja! Ninja! Ada Ninja hatori, woi!”, ledek anak kecil laki – laki berbaju hijau lusuh.

“Bukan, itu hantu. Aku aja ngeri, lihatnya! Bajunya serba hitam lagi”, ujar anak kecil lainnya berpotong cepak mekar sambil ketakutan.

“Ih, sok suci lagi! Dasar ninja hatori! Pakaian itu biasa saja! Jangan kearab-araban!”, maki anak kecil berbaju cokelat dan berkepala botak sambil melempar botol bekas ke arah Iklima yang membonceng Khadijah.

Iklima dan Khadijah hanya bisa diam, beristighfar, dan bersabar, karena mendengar anak-anak kecil yang menghujat. Setelah 30 menit. Tibalah mereka di masjid Al-Ikhlas. Banyak ibu, anak kecil, dan sebagian wanita bercadar hadir dalam majelis itu. Pertama, majelis itu dibuka dengan pembukaan. Sampai akhirnya, diiisi dengan kajian inti. 

“Berbuat baiklah dan bersabar dalam menghadapi ujian pada hijrahmu. Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajatmu, jika kamu beriman dan bertakwa. Allah SWT akan mengganti cobaan yang kamu terima, dengan kenikmatan yang lebih baik. Curahkanlah hatimu hanya kepada Allah SWT! Abaikan semua perkataan manusia yang menghujatmu! Semua itu hanya perkataan manusia. Rasulullah SAW saja pernah berhijrah sampai dilempari batu, dihina, dan berdarah – darah…. Hanya karena menyampaikan agama Allah SWT ke umat manusia. Perhatikan perbuatanmu di dunia, karena semua akan dipertanggungjawabkan dan dibalas oleh Allah SWT baik itu langsung di dunia atau di akhirat”, ujar Ustadz Subhan menyampaikan nasehat ke majelis itu.

Khadijah tersadar dan diam sejenak. Kemudian dia berpikir bahwa kejahatan itu harus dibalas kebaikan. Dia ingat peristiwa – peristiwa buruk yang menimpanya. Kemudian dia memaafkan semua yang telah menyakiti hatinya. Khadijah pun pulang bersama Iklima. Setelah tiba di rumah, kemudian ia berpamitan dengan sahabat hijrahnya itu. 

Hari berganti hari. Hari itu masih pagi. Khadijah berangkat mengajar ke sekolah.

“Tiiit….Tiiit!”, suara klakson sepeda motor yang hampir menabrak anak kecil.

“Awas! Minggir, nak!”, teriak ibu berdaster yang pernah meledek Khadijah.

Kemudian Khadijah langsung menolong anak kecil itu dan menarik lengannya.

“Loh, kakak kan yang pernah aku ledek beberapa hari yang lalu?”, tanya anak kecil berbaju hijau itu.

“Iya, dek! Hati – hati, ya di jalan!”, jawab Khadijah.

“Saya dan anak saya minta maaf, ya mbak. Sudah meledek dan menyakiti hati, mbak”, lanjut ibu gemuk berdaster yang pernah meledek Khadijah.

“Iya, nggak apa – apa. Sudah saya maafkan, kok”, sahut Khadijah sambil tersenyum di balik cadarnya.

Khadijah pun sampai di sekolah dan duduk termenung di meja kantor dalam diamnya. Lalu, ia berpikir bahwa keikhlasan, iman, dan kesabaran adalah ujian hidup di bumi ini. Sebagaimana bersabarnya Nabi Muhammad SAW dalam berhijrah. Walaupun, hijrah dan memakai cadar banyak lika-likunya itu hal yang sangat mengguncang keimanan. Ia juga harus hati – hati dan berpikir setiap ujian yang terima itu apa benar – benar cobaan, musibah, apa istidraj. Ia berpikir bahwa ia harus segera bermuhasabah diri dan meminta ampunan oleh Allah SWT. Ia juga tahu, nasibnya sebagai wanita bercadar adalah pilihan dia. Jadi, dia harus tahan banting menerima hinaan orang lain.


Catatan:

(Tulisan ini hanya fiksi/ khayalan. Bukan dari pengalaman penulis atau siapapun.)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biodata Arhima Shofia Fariha

Cerpen "Suara Hati Wanita Bercadar"

Cerpen "Menggenggam Dimensi Waktu"