Cerpen "Ramadan Kelabu"

Ramadan Kelabu

(Oleh: Arhima Shofia Fariha)

Sumber: pixabay.com


Langit di barat bertempur dengan jingga. Awan – awan kelabu dan jingga bersaing untuk mendapatkan tahta yang terbaiknya di singgasana langit. Dedaunan saling berbisik dengan angin yang berhembus. Hawa yang terlampaui dingin mulai menjarah suhu sejuk kota Malang. Hingga membuat tubuh menggigil. Seorang gadis berambut pendek bergelombang sedang syuting menjadi pemain sinetron di Kota Apel tersebut. Ia merokok dan sesekali meneguk anggur merah.

“Udah giliran gue, bang? Main sinetron sekarang?”, tanya Ganes dengan penasaran.

“Iya, sekarang udah giliran kamu main”, sang sutradara sambil terpesona dengan kecantikan Ganes.

“Makasih, bang”, balas Ganes dengan penuh semangat.

Adegan syuting dimulai. Ganes menamparkan pipi ke lawan main. Ia mengatakan dalam adegan sinetron bahwa seharusnya ia yang dinikahi bukan perempuan lain. Tiba – tiba kabel di syuting dalam memproduksi sinetron memercikkan api. Api yang semula kecil menjadi besar. Kobaran api dimana – mana. Kru film saling menyelamatkan diri. Tetapi, tidak ada yang peduli dengan Ganes.

“Tolong, tolong! Tolong gue!”, teriak Ganes terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

“Nggak ada yang menolong gue, berarti gue harus berusaha sendiri”, gumam Ganes sambil kesal.

Ganes menarik kakinya yang terkena runtuhan bangunan. Ia berusaha menyelamatkan diri. Ia pun akhirnya, bebas. Walaupun wajahnya terkena luka bakar dari kobaran api. Ia pun segera mencari ojek dan pergi ke rumah sakit untuk meminta pertolongan.

***

“Allahumma Anta Robbi, laa ilaha illa Anta khalaqtani wa ana abduka, wa ana ala ahdika wawa'dika mastatho'tu, audzubika min syarri ma shona'tu, abu'u laka bini'matika alayya wa abu'u laka bi dzanbi, faghfirli, fa innahu la yaghfirudz-dzunuuba illa Anta.”

Suara lantunan pujian kepada Allah SWT terdengar merdu. Pujian itu adalah Sayyidul Istighfar. Pujian itu dilantunkan oleh seorang pemuda yang ada di Masjid Agung Ar Rahman saat Ashar. Ganes mendengar pujian itu merasa terenyuh. Ia sangat rindu kampung halamannya. Ia juga sangat rindu keluarganya. Ia tersadar selama ini dia kemana saja. Ia dulu sangat ambisius untuk menjadi seorang aktris. Hingga suatu hari ia jauh dari agama dan keluarganya demi sebuah pekerjaan. Tuntutan pekerjaan dan lingkungan membuat kepribadiaanya 180 derajat berubah drastis.

Ia pun baru tersadar bahwa hari itu hari pertengahan bulan Ramadan, karena ia baru melihat ada orang – orang bagi takjil di masjid tersebut. Ia sangat menyesal, karena ia tidak sahur dan niat puasa tadi sebelum Subuh. Hati Ganes yang dulu keras kini mulai melembut. Ia berniat pulang kampung ke Nganjuk. Ia juga berniat hijrah menjadi orang yang benar – benar lebih baik. Ia berencana membuka usaha sembako kecil – kecilan di kampungnya. Wajahnya tidak secantik dulu, karena ada luka bakar saat kecelakaan syuting. Ia juga tidak laku menjadi aktris lagi.

***

“Assalamua’alaikum. Ibu, aku pulang. Aku kangen ibu sama bapak. Adik mana? Adik?”, ucap Ganes di depan pintu yang sedang ia buka di jam 9 pagi.

“Adik masih sekolah, nak. Wajah kamu kenapa? Kamu kapan mulai berhijab?”, sahut Ibu dengan penuh tanda tanya.

“Aku capek, bu. Iya capek, dengan dunia ini. Aku ingin hijrah dan menjadi orang yang benar – benar lebih baik. Wajahku terluka, karena kecelakaan syuting. Ceritanya panjang, bu. Nanti aku ceritakan”, ujar Ganes dengan sedih karena wajahnya tidak secantik dulu.

Dalam benaknya, bahagia itu sederhana. Bahagia itu dapat memperoleh manisnya keimanan, keluarga yang ia rindukan, dan perilaku menjadi orang yang lebih baik. Baginya, hal yang paling ia rindukan agar selalu tetap istiqomah dalam menjalankan agama dan hidayah yang ia terima semoga tidak dicabut oleh Allah SWT. Ia juga lelah dengan dunia. Sehingga ia ingin menyerahkan dunia sepenuhnya kepada Allah SWT. Ia juga berniat ingin belajar Islam lebih mendalam. Dalam hatinya, ramadan tahun ini adalah ramadan kelabu karena ada musibah seperti kecelakaan syuting. Walaupun ia bahagia juga, karena ia mendapat hidayah dari Allah SWT.


Catatan: 
(Tulisan ini hanya fiksi/ khayalan. Bukan dari pengalaman penulis atau siapapun.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biodata Arhima Shofia Fariha

Cerpen "Suara Hati Wanita Bercadar"

Cerpen "Menggenggam Dimensi Waktu"