Cerpen "Ramadan Tahun Ini"

Ramadan Tahun Ini
(Oleh: Arhima Shofia Fariha)


Sumber: pixabay.com


Matahari tenggelam di sebelah barat. Burung – burung kembali ke sarangnya. Cahaya jingga di langit mulai meredup. Dingin mulai menusuk tulang hingga tubuh menggigil. Seorang wanita tua memakai mukena putih duduk di mushola sedang menuggu iqomah Maghrib dimulai. Pikirnya bahwa besok sudah Ramadan. Iqomah salat Maghrib pun tiba. Kemudian, ia melaksanakan sholat Maghrib.

Saat di akhir salat, ia berdoa agar bisa mendapatkan banyak rezeki yang halal, kesehatan, umur yang panjang dan berkah serta keluarga yang selalu utuh. Ia pun tiba di rumah. Ia menyalakan lampu kamar. Ia terkejut bahwa anaknya masih tidur di ranjang.

 “Bagas, kamu belum salat? Apa ini? Kamu masih pakai sabu – sabu? Awas ya, kalau ada apa – apa. Ibu nggak mau tahu, pokoknya kamu harus direhabilitasi sebelum ada orang lain yang melapor ke polisi”, tutur Ibu dengan penuh kesal.

 “Halah…. Ibu nggak usah ikut campur. Ini urusanku bukan urusanmu, bu. Ibu tahu apa tentangku. Narkoba adalah jalan ninjaku untuk memperoleh kebahagiaan”, bentak Bagas kepada Ibu.

 “Ya sudah. Ibu lapor bapak saja. Ingat ini, uang itu untuk membeli hal yang bermanfaat bukan buat narkoba. Awas saja kamu ya, semoga kamu cepat sadar!”, ujar Ibu yang masih pakai mukena.

Ibu kemudian mencari suaminya. Ia mengatakan kepada suaminya bagaimana ia harus menyadarkan kepada Bagas yang terlena dengan dunia hitam. Si bapak mengatakan bahwa kita harus pasrahkan kepada Allah SWT, agar Bagas tersadar dan ingat kepada Allah SWT.

***

Jerawat langit menghiasi angkasa. Di klub malam banyak wanita berpakaian minim bersama para pria berjoget ria. Saat itu Bagas di diskotik itu sambil pesta narkoba bersama dancer diskotik wanita yang bernama Bianca. 

 “Sulang dulu dong! Kita senang – senang dulu”, kata Bagas kepada Bianca dengan penuh semangat. Bagas kemudian menuangkan anggur merah lagi ke gelas Bianca.

 “Eh, narkoboy-nya mana? Jangan lupa loh!”, ucap Bianca meminta sabu – sabu ke Bagas.

 “Ini, sayang”, sahut Bagas kepada Bianca sambil merayu.

Tiba – tiba ada sirene suara polisi dengan keras. Menangkap orang – orang yang ada di klub malam, karena menurut informan klub malam itu ilegal dan ada yang pesta narkoba. Semua berlari berhamburan dan menyelamatkan diri masing – masing. Ada beberapa yang lolos, tetapi kebanyakan ditangkap polisi. Sesosok polisi berbadan besar bernama Bambang dengan gesit menangkap Bagas dan membawanya ke mobil polisi untuk diuji apakah betul – betul pengguna narkoba atau tidak.

“Ampun, pak! Ampun!”, melas Bagas ke Pak Bambang.

“Hasil tes sudah keluar, kamu positif pengguna narkoba dari hasil tes urinmu,” teriak Pak Bambang sambil meninju kepala Bagas.

“Saya khilaf, pak’, jawab Bagas sambil ketakutan daan merasa pusing setelah ditinju kepalanya.

“Khilaf, khilaf. Sana masuk ke dalam penjara lagi. Kamu ditahan”, bentak Pak Bambang.

Bagas bersedih dan merenungi nasibnya. Ia sadar dan menyesal dirinya telah diperbudak nafsu dan terjerumus ke dalam dunia hitam. Narkoba telah merenggut dirinya. Ia mendengar suara adzan Maghrib. Ia tersadar dari lamunannya karena para polisi menyuruh para narapidana untuk berbuka puasa. Ia juga terkejut bahwa bulan ini Ramadan. Menit selalu bergerak. Begitu juga hari selalu berganti. Bagas merasa bosan dan terkadang merasa sakaw dari efek narkoba yang pernah ia konsumsi. 
Ia merasa lelah dengan dunia ini. Hatinya gelisah. Di penjara ia hanya diam dan dirisak oleh para narapidana lainnya.

“Dasar tukang narkoba! Lu itu salah, udah hidup enak – enak…. Malah milih narkoba yang menjerumuskan. Main cewek lagi”, maki pria berkepala plontos.

“Darimana Abang tahu?”, tanya bagas dengan heran.

“Dari kabar burung. Kami ini semua narapidana udah mantau lu dari awal. Awas lu, ya….”, jawab pria berkepala plontos sambil mengacungkan jari tengah.

Bagas pun tersadar bahwa untuk menjadi orang jahat itu lebih mudah daripada menjadi orang baik. Ia juga ingin segera bertaubat nasuha. Saat ini sangat rindu kepada keluarganya yang selama ini menasehatinya. Ia juga rindu dengan manisnya iman yang ia peroleh saat kecil ketika ia memasuki pesantren saat MTs. Ia berubah total ketika lulus pesantren dan membuatnya memasuki dunia hitam. 
Suatu hari, ia salat taubat, berdoa, dan beristighfar di dalam penjara. 

Saat berdoa, ia mengucapkan, “Ya Allah… Dzat Yang Maha Pengasih lagi, Yang Maha Penyayang. Lembutkanlah hati hamba. Terimalah permohonan ampun hamba. Jadikan Ramadan tahun ini bisa mendekatkan hamba dengan-Mu! Terimalah taubat hamba. Tolong kumpulkan hamba dengan keluarga hamba! Agar hamba menjadi orang yang benar – benar berada di jalan-Mu. Tidak apa – apa hamba di ramadan ini, tidak bersama dengan orang – orang yang hamba sayangi. Karena hamba sekarang hanya fokus dengan taubat hamba saat ini. Aamiin….”.

“Ngapain lu, sok suci lu! Pura – pura salat, hati lu itu busuk,” ledek pria berbadan kekar berkulit legam. 

“Biarin, biar Allah yang balas perbuatan orang itu”, ujar dalam batin Bagas.

Tiba – tiba ada polisi yang memberitahukan bahwa ada kunjungan dari keluarga Bagas. Pak Bambang selaku polisi di kantor itu mengucapkan kepada Bagas dan keluarganya bahwa Bagas butuh waktu yang cukup lama untuk ditahan di penjara.

“Bagas, anakku…. Yang sabar, ya! Ibu dan bapak juga sedih melihat kamu di penjara. Beberapa hari yang lalu ibu dengar kamu ketangkap polisi dari kabar tetangga. Tetangga sekitar banyak yang bergunjing menegenai kamu dan keluarga kita. Para tetangga juga menampakkan sikap bencinya kepada keluarga kita. Itu membuat ibu syok,” keluh ibu dengan meneteskan air mata.

“Maafkan Bagas, bu. Bagas sudah sadar, bu. Apa yang ibu katakan ternyata itu semua benar. Bagas berjanji menjadi orang yang benar – benar lebih baik”, sahut Bagas sambil meneteskan air mata.

***

Bulan setiap hari berganti dengan yang baru. Akhirnya, ia dibebaskan dari penjara. Ia sangat rindu dengan keluarganya dan manisnya iman saat beribadah di masjid. Ia menyesal telah terjerumus ke pergaulan yang salah. Pikirannya kembali ke masa lalu dan menerawang bahwa ia dulu cuma ikutan tren dan ingin dikatakan gaul dengan memakai narkoba. Ia saat ini belum percaya diri, karena baru bebas dari penjara. 

Suatu hari saat di masjid, Bagas sholat subuh dan ia dipercaya sebaga pembawa kultum subuh oleh imam masjid.

“Dulu kamu pernah mondok kan, Bagas? Dulu kamu pernah ikut lomba da’I cilik, ya? Dan pernah menang? Sudah saatnya generasi muda menggantikan saya, ayo maju!”, ujar ustadz Muhammad.

“Iya, pak ustadz itu benar semua. Tetapi, mohon maaf saya merasa tidak enak hati, karena masa lalu saya kelam”, jawab Bagas.

“Tidak apa – apa, Bagas. Saya percaya kamu”, kata ustadz Muhammad dengan mantap.

Bagas maju ke depan untuk memberikan kultum Subuh. Tetapi, banyak jama’ah berbisik kepada jama’ah lainnya karena masa lalu Bagas. Tetapi, Bagas berusaha berpikir positif dan mencoba mempunyai pandangan lurus.

“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Hadirin yang dihormati Allah SWT. Islam itu mengajarkan kedamaian. Islam itu agama damai. Islam itu juga mengajarkan kerinduan kepada manisnya iman, Rasulullah SAW, dan Allah SWT. Apakah Islam menyuruh untuk berbuat kemungkaran? Seperti fitnah, peperangan, permusuhan? Tidak, kan? Persaudaraan di Islam itu seperti satu tubuh yang sakit, semua merasakan kesakitan. Tahukah kalian apa yang paling menyakitkan? Hal yang paling terberat saat saya masuk penjara, karena merasakan kerinduan yang teramat dalam terutama kepada keluarga, manisnya beribadah, Allah SWT, dan Rasullullah SAW. Keluarga bagi saya, ialah orang yang sangat dekat di saat duka maupun suka. Karena semua orang itu datang dan pergi. Ingalah jika kalian merasa gelisah artinya rindu kepada Allah dan manisnya iman. Maka mendekatlah kepada Alah dan bertaubat nasuha. Agar semua urusan lancar”.

Para jama’ah di masjid terkagum melihat Bagas menjadi orang baik. Setelah keluar dari masjid, sebagian para jamaah meminta maaf kepada Bagas dan merasa bersalah karena beburuk sangka terlebih dahulu.



Catatan:
(Tulisan ini hanya fiksi/ khayalan. Bukan dari pengalaman penulis atau siapapun.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biodata Arhima Shofia Fariha

Cerpen "Suara Hati Wanita Bercadar"

Cerpen "Menggenggam Dimensi Waktu"