Puisi "Elegi Gadis dan Hujan"

Elegi Gadis dan Hujan
(Oleh: Arhima Shofia Fariha)

Sumber: pixabay.com

Guyuran hujan menyulam pepohonan menggigil
Dedaunan berbisik bersumpah serapah terhadap angin
Dingin menjarah kelabu awan
Membunuh jiwa yang lara

Seorang ibu berdaster cokelat berteduh di teras rumah
Menunggu hujan reda
Ia sedang lelah karena sang anak belum kembali bertahun - tahun
Menunggu apakah sang anak sudah kembali dalam keadaan baik – baik saja atau tidak

Nyatanya, seorang tetangga dekat baru mengabarkan bahwa sang anak merantau di luar negeri
Di sisi lain, sang gadis tersadar dan merasa bersalah bahwa ia berjalan yang sangat jauh untuk merantau
Di dalam hujan, sang gadis berpikir bahwa ia sangat membenci hujan 
Karena teringat kenangan harus merantau cari makan di negeri orang ketika meninggalkan negeri sendiri di saat hujan

Demi sesuap nasi dan meninggalkan keluarga
Bagi gadis, hujan adalah hal yang menyedihkan bagi dia
Tetapi ia tersadar bahwa hujan memberikannya sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup
Untuk bertahan hidup

Menyulam hujan adalah jalan paling cepat gadis untuk mendapatkan rezeki
Karena menyulam hujan dan memberi makan kelabu awan
Cara satu – satunya, untuk mengisi perut kosong dan demi membayar hutang keluarga
Ia harus lewati dalam sepotong kisah yang abadi seumur hidup

Baginya, ia harus berdamai dengan hujan
Karena dengan hujan, ia harus dekat dengan keluarga yang ada di tanah air
Hujan membuat gadis tersadar untuk mencintai keluarga
Karena keluarga adalah teman terdekat di saat senang maupun duka




Nganjuk, 8 April 2023



Catatan:
(Tulisan ini hanya fiksi/ khayalan. Bukan dari pengalaman penulis atau siapapun.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biodata Arhima Shofia Fariha

Cerpen "Suara Hati Wanita Bercadar"

Cerpen "Menggenggam Dimensi Waktu"